Buku Harian

Januari 04, 2019

          Membaca buku harian lama memang sering membuatku geli, tertawa, sedih, dan rindu pastinya pada sesuatu yang pernah terjadi. And one of my biggest mistakes is… setahun belakangan aku sudah gak rutin lagi menulis buku harian, satu hal simple yang sangat penting. Kesombonganku yang melukai diriku sendiri… saat aku bilang apa yang terjadi hari ini cukup simpan di dalam diriku saja, gak perlu dituangkan kedalam catatan harian, karena lupa itu sesuatu yang tabu! 
Lalu hari ini diriku bilang kenapa kamu gak lagi menulis catatan harian, apa yang terjadi hari lalu sudah berlalu dan memori itu sudah layu dalam ingatan.
Itulah perdebatan antara aku dan aku yang gak konsisten. Perdebatan atau tepatnya penyangkalan agar gak terlihat seperti penyesalan. Gak hanya memikirkan buku harian saja, sudah lama aku ingin menulis lagi di laman yang sudah penuh debu ini dan sekarang aku coba untuk melakukannya, lagi.
Oke, sebelum lanjut izinkan saya meng-aku kan diri pada postingan kali ini, karena setelah dibaca-baca ulang postingan yang lalu, sepertinya terlalu kaku untuk menggunakan “saya” pada aku.
Well sesuai dengan apa yang aku tulis di bio, aku ingin ketika kalian mengunjungi laman ini kalian mendapat sesuatu hal baru, positif, dan bermanfaat setelah membacanya. kemarin, aku berpikir sepertinya aku perlu memantaskan diri lagi sebelum melanjutkan untuk menulis lagi di blog, aku gak ingin yang membacanya menjadi sia-sia untuk datang ke blog ini karena yang didapat hanyalah ocehan dan omong kosong gak jelas.

lagi-lagi setelah ini aku kembali mengingkari pikiranku sendiri….

Ada orang-orang yang dengan buku hariannya dapat menggemparkan dunia. Adolf Hitler dengan Mein kampf nya, Anne Frank dengan buku harian legendarisnya, Soe Hok Gie dengan catatan perjuangannya, and so on.
Aku gak perlu harus menunggu bisa membuat tulisan-tulisan, artikel ilmiah, jurnal, atau sebagainya terlebih dulu untuk berbagi dan menulis. Untuk saat ini aku ingin kembali konsisten menulis lagi in my own diary atau di blog ini (my public diary) meskipun terdengar kecil, it’s okay because you can also share positive vibes even from the small things. Ketika ingin memantaskan diri bukan berarti apa yang kita lakukan menjadi terhenti. To share something or usefull for the others, kita gak perlu menunggu nanti. Gunakanlah kesempatan yang ada karena waktu terus berjalan, dan ketika ia berhenti adalah mutlak, tanpa kita tau kapan dan gak dapat diganggu gugat.

You Might Also Like

4 komentar