Hello, Goodbye (Perjalanan dan Pelajaran)

Februari 27, 2019



Setelah berjam-jam duduk di depan layar laptop dengan tampilan Ms word yang kosong karena gak tau harus mulai nulis dari mana, bersama ribuan kata yang ada di otakku, yang tidak percaya diri kata mana yang akan dituangkan pada tulisan ini, dan kata mana yang harus tetap tinggal di dalam sana. Untuk kali ini aku sepertinya butuh kantong ajaib Doraemon yang mampu mengeluarkan alat peretas otak seperti ACAT (Assitive Context Aware Toolkit) yang digunakan oleh mendiang Stephen Hawking yang hanya dengan menggerakkan pipinya saja dan setelah terekam oleh sistem, hocus pocus jadilah Hawking dapat menulis, berbicara, bahkan berpidato. Teknologi bergerak maju begitu cepat, tetapi tetap saja akan kalah dengan kontong fiksi Doraemon lol… Oke cuy aku gak akan melanjutkan topik pembicaraan Doraemon dan akan mencoba menyinkronkan antara judul dan isi tulisan.
Well… Hello 20
Gak ada yang istimewa dan euforia yang berlebihan ketika usia berganti, terlebih lagi ketika memasuki usia kepala dua. Aku pernah mendengar sebuah kutipan “everyone grows old, but not everyone is growing up” kutipan ini mungkin berguna ketika kita diusia kanak dan remaja, karena ketika kanak kita melakukan sesuatu yang salah maka akan “dimaklumi saja karena anak kecil”, ketika memasuki usia belasan tahun dan kita berbuat salah maka dianggap “biasalah namanya juga remaja”. Tapi ketika memasuki usia 20 akan ada penuntutan yang berasal dari diri kita sendiri atau bahkan orang lain. Usia ini adalah usia yang minim toleransi, ketika kita mengambil keputusan dan berdampak negatif atau (salah) maka yang terjadi adalah adanya penuntutan-penuntutan seperti “kenapa ceroboh sekali dalam bersikap, kenapa tidak dipikirkan dulu sebelum mengambil keputusan, kan sudah dewasa, kan sudah besar” kalimat-kalimat itulah yang aku pikirkan akan dialami pada kehidupan orang-orang diusia dewasa. Hal-hal tersebut bisa terjadi karena saat berada diusia dewasa kita belum bisa bersikap dewasa. Yang terjadi hanyalah penambahan usia tanpa perubahan dalam bersikap, belum cukup bijak dalam mengambil keputusan, bahkan masih gagap untuk mengenali diri sendiri... maka menjadi dewasa is a must even we’re  not ready for it!
            Goodbye 19, time moves slowly but passes quickly
            Ada perjalanan penuh pelajaran yang aku lalui di penghujung usia 19, tepatnya itu baru terjadi sebulan yang lalu, perjalanan mendaki gunung Kerinci. Sebelum bercerita sedikit, perlu aku jelasakan terlebih dahulu bahwa aku tidak akan menjelaskan mengenai kiat-kiat mendaki gunung, karena aku bukanlah pendaki ulung, yang sudah sering naik turun gunung. Aku juga tidak akan menjelaskan runtutan cerita pergi-pulang perjalanan, karena itu akan sangat panjang dan aku belum cukup expert untuk menjadi story teller. Aku hanya akan menceritakan sepenggal pelajaran dari perjalanan ini, because for me it’s too hard to tell this amazing journey into words and there’s so many things I’ve learned from this journey. Ternyata untuk berguru dengan alam tidak semudah yang dibayangkan, penuh ujian dan tantangan untuk mendapatkan keindahan, tidak seinstant Nobita yang bisa mendapatkan apa saja dari kantong Doraemon. Ketika mendaki keadaan jalan membuatku kaget dan takut karena sangat tidak wajar… curam, dan menukik. Lalu aku berpikir bunga memang indah untuk dipandang tapi akar yang berada dibawah kerap terlupakan, pada saat itu akar-akar pohonlah yang manjadi pegangan untuk menopang badan. Rasa haus yang berlebihan membuatku kerap kali meminta untuk berhenti ketika sedang berjalan, nafas yang tidak teratur pun kunjung membuatku lelah. Saat dalam perjalanan naik yang aku pikirkan adalah bagaimana caranya sampai keatas. Ketika diatas aku terlalu sibuk memikirkan ketakutanku dan bagaimana caranya untuk turun. Terlalu khawatir akan apa yang belum terjadi membuatku lupa untuk menikmati tiap-tiap langkah yang sedang kulalui, membuatku lupa untuk bersyukur, melihat dan merasakan sejenak akan alam indah yang Tuhan tawarkan.
            Pemeran utama dari perjalanan ini bukanlah aku, melainkan teman-teman. As an introvert person, aku selalu berusaha untuk melakukan segalanya sendiri, sulit untuk berbaur didalam percakapan, mudah risau ketika berada dikeramaian, dan ada satu titik ketika aku membutuhkan waktu untuk duduk sendiri, menenangkan dan berdamai dengan diri sendiri atau dengan buku. Perjalanan ini membuatku kembali sadar bahwa manusia itu gak bisa hidup sendiri, bahkan sepanjang perjalanan aku selalu merepotkan teman-teman. Ketika aku lelah mereka yang menyemangati, ketika aku haus mereka yang mencarikan dan menyodorkan air untukku, ketika aku terjatuh mereka yang mengulurkan tangan untuk menolong, ketika gelap merekalah yang memberi penerangan, dan ketika aku sudah merasa kakiku tidak sanggup lagi untuk melangkah, merekalah yang menopangku dan menuntunku. Bahkan ketika mereka lelah, dan sakit mereka tetap tidak egois dan terus menemani dan menyemangatiku. Perjalanan ini dapat terlewati atas kehendak dan lindungan dari-Nya, support juga kepercayaan dari keluarga dan tentunya karena teman-teman yang selalu menjaga.
Diawal perjalanan aku bahkan tidak tahu apa alasannya aku ingin mendaki gunung, sampai pada saat turun aku mulai mengerti bahwa perjalanan ini aku lakukan bukan untuk menaklukan dan mencapai puncak gunug, tetapi ini aku lakukan untuk menaklukan diriku sendiri, beat the fear and never give up, karena alam punya caranya sendiri untuk berteman dengan manusia. Dan pilihan ada ditangan manusia apakah ia akan lolos atau mungkin akan gugur dalam seleksi alam.Waktu terus berjalan, hari esok memang penting untuk dipersiapkan, akan tetapi jangan sibuk memikirkan apa yang kita tidak pernah tahu yaitu hari esok sehingga kita lupa untuk menikmati dan memaksimalkan apa yang sedang kita jalani., hari lalu itu penting, tapi bukan untuk disesalkan melainkan dijadikan pelajaran.



pictures tell











You Might Also Like

1 komentar

  1. Hallo kak mau tanya tinggal di tj sari no 15A bukan

    BalasHapus