Setelah berjam-jam duduk di depan
layar laptop dengan tampilan Ms word yang kosong karena gak tau harus mulai
nulis dari mana, bersama ribuan kata yang ada di otakku, yang tidak percaya
diri kata mana yang akan dituangkan pada tulisan ini, dan kata mana yang harus
tetap tinggal di dalam sana. Untuk kali ini aku sepertinya butuh kantong ajaib
Doraemon yang mampu mengeluarkan alat peretas otak seperti ACAT (Assitive Context Aware Toolkit) yang
digunakan oleh mendiang Stephen Hawking yang hanya dengan menggerakkan pipinya
saja dan setelah terekam oleh sistem, hocus
pocus jadilah Hawking dapat menulis, berbicara, bahkan berpidato. Teknologi
bergerak maju begitu cepat, tetapi tetap saja akan kalah dengan kontong fiksi Doraemon
lol… Oke cuy aku gak akan melanjutkan topik pembicaraan Doraemon dan akan
mencoba menyinkronkan antara judul dan isi tulisan.
Well…
Hello 20
Gak ada yang istimewa dan euforia
yang berlebihan ketika usia berganti, terlebih lagi ketika memasuki usia kepala
dua. Aku pernah mendengar sebuah kutipan “everyone
grows old, but not everyone is growing up” kutipan ini mungkin berguna ketika
kita diusia kanak dan remaja, karena ketika kanak kita melakukan sesuatu yang
salah maka akan “dimaklumi saja karena anak kecil”, ketika memasuki usia
belasan tahun dan kita berbuat salah maka dianggap “biasalah namanya juga
remaja”. Tapi ketika memasuki usia 20 akan ada penuntutan yang berasal dari
diri kita sendiri atau bahkan orang lain. Usia ini adalah usia yang minim
toleransi, ketika kita mengambil keputusan dan berdampak negatif atau (salah)
maka yang terjadi adalah adanya penuntutan-penuntutan seperti “kenapa ceroboh
sekali dalam bersikap, kenapa tidak dipikirkan dulu sebelum mengambil
keputusan, kan sudah dewasa, kan sudah besar” kalimat-kalimat itulah yang aku
pikirkan akan dialami pada kehidupan orang-orang diusia dewasa. Hal-hal
tersebut bisa terjadi karena saat berada diusia dewasa kita belum bisa bersikap
dewasa. Yang terjadi hanyalah penambahan usia tanpa perubahan dalam bersikap,
belum cukup bijak dalam mengambil keputusan, bahkan masih gagap untuk mengenali
diri sendiri... maka menjadi dewasa is a
must even we’re not ready for it!
Goodbye 19, time moves slowly but passes
quickly
Ada
perjalanan penuh pelajaran yang aku lalui di penghujung usia 19, tepatnya itu
baru terjadi sebulan yang lalu, perjalanan mendaki gunung Kerinci. Sebelum
bercerita sedikit, perlu aku jelasakan terlebih dahulu bahwa aku tidak akan
menjelaskan mengenai kiat-kiat mendaki gunung, karena aku bukanlah pendaki
ulung, yang sudah sering naik turun gunung. Aku juga tidak akan menjelaskan
runtutan cerita pergi-pulang perjalanan, karena itu akan sangat panjang dan aku
belum cukup expert untuk menjadi story
teller. Aku hanya akan menceritakan sepenggal pelajaran dari perjalanan
ini, because for me it’s too hard to tell
this amazing journey into words and there’s so many things I’ve learned from
this journey. Ternyata untuk berguru dengan alam tidak semudah yang
dibayangkan, penuh ujian dan tantangan untuk mendapatkan keindahan, tidak
seinstant Nobita yang bisa mendapatkan apa saja dari kantong Doraemon. Ketika
mendaki keadaan jalan membuatku kaget dan takut karena sangat tidak wajar…
curam, dan menukik. Lalu aku berpikir bunga memang indah untuk dipandang tapi
akar yang berada dibawah kerap terlupakan, pada saat itu akar-akar pohonlah
yang manjadi pegangan untuk menopang badan. Rasa haus yang berlebihan membuatku
kerap kali meminta untuk berhenti ketika sedang berjalan, nafas yang tidak
teratur pun kunjung membuatku lelah. Saat dalam perjalanan naik yang aku
pikirkan adalah bagaimana caranya sampai keatas. Ketika diatas aku terlalu
sibuk memikirkan ketakutanku dan bagaimana caranya untuk turun. Terlalu
khawatir akan apa yang belum terjadi membuatku lupa untuk menikmati tiap-tiap
langkah yang sedang kulalui, membuatku lupa untuk bersyukur, melihat dan
merasakan sejenak akan alam indah yang Tuhan tawarkan.
Pemeran
utama dari perjalanan ini bukanlah aku, melainkan teman-teman. As an introvert person, aku selalu
berusaha untuk melakukan segalanya sendiri, sulit untuk berbaur didalam percakapan,
mudah risau ketika berada dikeramaian, dan ada satu titik ketika aku
membutuhkan waktu untuk duduk sendiri, menenangkan dan berdamai dengan diri
sendiri atau dengan buku. Perjalanan ini membuatku kembali sadar bahwa manusia
itu gak bisa hidup sendiri, bahkan sepanjang perjalanan aku selalu merepotkan
teman-teman. Ketika aku lelah mereka yang menyemangati, ketika aku haus mereka
yang mencarikan dan menyodorkan air untukku, ketika aku terjatuh mereka yang
mengulurkan tangan untuk menolong, ketika gelap merekalah yang memberi
penerangan, dan ketika aku sudah merasa kakiku tidak sanggup lagi untuk
melangkah, merekalah yang menopangku dan menuntunku. Bahkan ketika mereka
lelah, dan sakit mereka tetap tidak egois dan terus menemani dan
menyemangatiku. Perjalanan ini dapat terlewati atas kehendak dan lindungan
dari-Nya, support juga kepercayaan dari keluarga dan tentunya karena
teman-teman yang selalu menjaga.
Diawal
perjalanan aku bahkan tidak tahu apa alasannya aku ingin mendaki gunung, sampai
pada saat turun aku mulai mengerti bahwa perjalanan ini aku lakukan bukan untuk
menaklukan dan mencapai puncak gunug, tetapi ini aku lakukan untuk menaklukan
diriku sendiri, beat the fear and never
give up, karena alam punya caranya sendiri untuk berteman dengan manusia. Dan
pilihan ada ditangan manusia apakah ia akan lolos atau mungkin akan gugur dalam
seleksi alam.Waktu
terus berjalan, hari esok memang penting untuk dipersiapkan, akan tetapi jangan
sibuk memikirkan apa yang kita tidak pernah tahu yaitu hari esok sehingga kita
lupa untuk menikmati dan memaksimalkan apa yang sedang kita jalani., hari lalu
itu penting, tapi bukan untuk disesalkan melainkan dijadikan pelajaran.
![]() |
| pictures tell |





