Par(e)dise
Mei 20, 2018
Udah lama banget saya pengen sedikit berbagi pengalaman ketika
berada di Pare bulan Januari lalu, tapi nggak tau kenapa setelah 4 bulan baru
subuh ini terbuka cakrawala pemikiran buat nulisnya, semoga ceritanya belum
basi ya hehe.
Okesip langsung aja…
Salah satu tempat yang pengen
saya kunjungin dalam list perjalanan dan belajar saya adalah Kampung Inggris,
Pare. Dari dulu selalu mencari kapan waktu yang tepat buat pergi ke sana dan finally karena semester lalu liburnya
lumayan panjang jadi saya ada kesempatan buat merealisasikannya. Kampung
Inggris tiap bulannya membuka 2 periode pendaftaran yaitu pada tanggal 10 dan
25 setiap bulannya, dan saya mendaftar di periode tanggal 25, yang masa
belajarnya selama 2 Minggu, di lembaga yang bernama Global English, dan tinggal
di triple A camp.
Kebetulan saya dan kakak
berangkat tanggal 24 Januari penerbangan pagi Pku-Sby, setelah itu ketika
sampai di Surabaya harus menempuh ± 5 jam perjalanan darat menuju Pare. Ketika
di depan mata keliatan tugu selamat datang di Kampung Inggris, saya sangat excited nggak sabar gimana sih nantinya
tinggal dan belajar di sini. Sepanjang jalan banyak pelajar yang lalu lalang
menggunakan sepeda dengan terburu-buru menghindari hujan untuk berteduh,
kebetulan cuaca saat saya sampai tidak terlalu baik, dan bukan hanya hari itu
saja, hampir setiap sorenya cuaca di sana kurang bersahabat. Sesampainya di
sana untuk yang tinggal di kostan travel nya bakal ngantarin langsung ke kostan
kita, tapi buat yang tinggal di camp travel nya bakal antarin kita ke lembaga
tempat kursus kita, karena sebelum masuk camp harus melakukan registerasi dan placement test terlebih dahulu. Dari hasil test yang
dilakukan tadi baru bisa ditentuin kelas-kelas apa saja yang bakal jadi kelas
kita. Penentuan kelas nya berdasarkan level, terdiri dari level 1-3. Setelah
penentuan kelas barulah dibolehin pergi ke camp.
Buat yang tinggal di camp selain
kita mesti belajar 3x sehari di tempat les, di camp juga ada jadwal belajarnya
2x sehari, jam 5 subuh sama sehabis maghrib dari hari Senin-Jumat, hari Sabtu
itu waktunya sanitary dan Minggu nya free, dan yang paling penting di camp
kita di wajibkan untuk speaking English 24 jam non stop kecuali hari Minggu,
kalau melanggar hukumannya bukan berupa sanksi pidana, perdata, atau
administrasi, melainkan cukup pengakuan dan kejujuran aja. Pada hari pertama
pembelajaran, subuhnya sekitar jam 6 an Ms Pembina asrama nya bakal ngajakin peserta
yang baru gabung keliling buat liat di mana aja tempat les nya, awalnya saya
kira tempat les itu tempatnya ya cuma di satu tempat. Ternyata nggak, jadi tiap
lembaga emang punya office tersendiri
tapi, buat kelas kursus lembaga itu punya banyak tempat. Tempatnya mulai dari
saung-saung gitu, atau kayak ada kelas-kelas, sampai tempat makan juga bisa di
jadiin kelas, dan jarak antara kelas-kelas itu biasanya nggak berdekatan,
bahkan ada yang beda jalan. Kebetulan kelas-kelas saya berada di satu tempat
tapi beda posisi nya aja, nama tempat kelas saya itu Pare Corner (parcor) yang
kalau pagi-sore itu jadi tempat les dan malamnya itu adalah tempat ngopi dan
nongki yang hits di Kampung Inggris.
****
Di sana saya banyak sekali
bertemu dengan teman-teman yang karakter nya bermacam-macam, berasal dari
berbagai tempat, universitas, daerah, bahasa nya juga berbeda-beda sampai ngomong
English pun tetap aja kedengaran logat-logat daerahnya. Jadwal les saya dimulai
dari jam 8 pagi yaitu kelas speaking 2. Nama tutor kelas ini adalah Mr Nyom, dan di kelas ini saya adalah murid termuda
karena teman-teman saya yang lain udah pada S2 termasuk kakak saya sendiri,
bahkan ada juga bapak-bapak. Awalnya emang minder karena saya takut nggak bisa
nyesuain sama orang-orang yang pengalaman belajar English nya lebih dahulu di
banding saya, tapi ternyata nggak seperti yang saya bayangkan kelas speaking
ini adalah kelas yang asik buat bertukar pikiran dan juga buat improve bahasa Inggris kita, karena tiap
hari nya kita bakal debate English
mengenai isu-isu terkini, kita juga tiap pertemuannya di kasih waktu kira-kira
10 menit buat sharing apa aja ke
teman kita menggunakan bahasa inggris, and
it was fun! di situ juga kita bisa latihan public speaking, sama uji mental, dan yang terpenting di kelas ini
diajarin jangan takut salah kalau kita mau ngomong English, Buat kalian yang tau
acara TED nah begitulah kira-kira kondisi kelas speaking saya.
Setelah itu, jam 10.30 adalah
jadwal saya memasuki kelas pronunciation 1. Kelas ini adalah dasar gimana sih
cara pengucapan sesuatu itu dalam bahasa Inggris yang baik dan benar, sering
kali saya secara pribadi udah ngerasa paling benar kalau ngucapin sesuatu, dan
dari kelas ini lah saya sadar ternyata masih banyak kata-kata saya yang salah
dalam pengucapan bahkan untuk kata yang simple
aja seperti perbedaan bird and beard
atau beautiful, full, atau fool. Nama
tutor kelas ini adalah Mr. Gondrong salah
satu pesannya yang saya ingat adalah “kalau
mau jago bahasa Inggris, setidaknya kalian harus practice 3 jam sehari speaking
english” dia juga pernah bilang orang sepulang dari Pare kalau dia nggak
bisa bahasa Inggris, setidaknya dia pandai menggunakan sepeda lol. Kelas pronunciation
ini metode belajarnya adalah dengan belajar membaca symbol , dan kelas saya ini pembelajarannya lebih mengacu pada American accent.
Lanjut ke kelas terakhir saya,
jam 16.00 adalah jadwal saya memasuki kelas vocab 2, yang tutornya adalah
Pembina camp saya Ms Ani. Saat kelas sore biasanya saya pergi nggak pakai
sepeda, dan jalan kaki bertemankan payung karena sering nya hujan. Kelas vocab
ini adalah kelas yang membahas vocab-vocab yang jarang kita temui atau yang
masih asing di dengar, di kelas ini tempat saya belajar dan memperbanyak
kosa-kata. Sepulang dari les sekitar jam setengah 6 sore, saat-saat itu adalah dimana saya sangat menikmati
keadaan di sana, melihat orang-orang yang lalu lalang baru pulang dari tempat
belajarnya masing-masing, melintasi jalan Aster dan jembatan kecilnya yang ada
waduk dialiri jernihnya air, menyusuri jalan Anyelir yang biasanya terkena
macet sepeda (Cuma di kampung Inggris kalian bisa ngeliat macet yang
dikarenakan sepeda). Saat malam juga suasana di Pare sangat nyaman, ramai
namun damai. I just miss my days in
Par(e)dise, and I hope I can back again if I have enough time and enough money tentunya
hehe.
![]() |
| I miss this place so much! |
***
FYI:
- Akan lebih baik kalau kalian mau ke sana ambil program yang waktu nya lumayan lama, karena bakal nyesal kalau cuma sebentar.
- Bawalah barang secukupnya, jangan bawa koper gede, selain rempong travel di sana juga rata-rata bakal minta tambahan kalau kita bawa banyak barang.
- Saat diajak buat keliling ngeliat di mana aja kelas kita, ada baiknya kita foto jalan, tempat, dan sekitarannya. Karena nggak gampang buat ngingat lokasinya.
- Nggak perlu bawa kamus atau buku bahasa inggris banyak-banyak, karena di sana ada toko buku yang jual buku-buku bahasa Inggris yang lengkap dan murah (kamus Oxford cuma 14 ribu, nggak ori tapi lol). Lokasi toko buku yang saya tahu itu di jalan Brawijaya dan di jalan Mawar dekat camp saya.
- Sebisa mungkin ketika kalian sampai, lebih baik langsung pergi ke tempat sewa sepeda dan beli payung (sewa sepeda kisaran ± 100 ribu per bulan).
- Kampung Inggris bukan tempat yang di penuhi bule, bukan juga tempat yang semua orangnya berbahasa Inggris.
- Jangan heran kalau kalian di panggil Ms atau Mr, karena itu emang udah tradisi nya begitu sampai bapak yang jual sempol juga bakal manggil Ms atau Mr.
- Jangan takut makan kalian bakal nggak enak atau lidah kalian bakal nggak sesuai sama makanan di sana, karena banyak tempat makan yang pas buat lidah orang Sumatera (tempat makan rekomendasi : warung bakoel, dapur jawa yang harganya kaki lima rasanya bintang lima, dan kalau malam paling enak itu nasi uduk sambal ndower di jalan anyelir) nah loh jadi wisata kuliner ceunah.
- Buat kalian yang kurang cocok sama kelas nya, bisa minta ganti kelas atau ganti tutor sebelum pertemuan ke 3.
- Camp adalah tempat yang tepat buat kalian tinggal selama di sana, camp nya juga bersih dan nggak jorok, dan tinggal di camp juga cocok jadi tempat practice English. Tapi buat kalian yang mau focus seperti ngambil program IELTS atau mau ambil 2 lembaga sekaligus, lebih baik jika tinggal di kostan.
- And the most important thing buang jauh-jauh pikiran kalian yang berasumsi pulang dari Pare kalian bisa speaking like a native. Bisa itu pasti, tapi perlu waktu yang cukup untuk belajar di sana. Karena Pare bukan kantong ajaib doraemon yang 2 minggu aja bisa buat orang cas cis cus ngomong englishnya.
- Buat kalian yang suka jalan-jalan, dari Pare dekat banget jaraknya ke mana aja seperti ke Bali, Jogja, atau Malang. Bakal nyesal sih sebenernya kalau nggak sempat jalan-jalan, dan sehabis program biasanya banyak travel yang nawarin paket liburan murah.
- Jangan takut dan merasa bahwa kita nggak bisa dan ngerasa paling bego diantara orang lain. Ada banyak orang yang pergi ke Pare yang emang belajar bahasa Inggris nya dari dasar, ya itulah gunanya datang ke sini untuk belajar dari ketidak tahuan menjadi tahu. *Tahu bulat di goreng dadakan....
Nah sebenarnya ada banyak lagi
hal yang mau saya tulis tentang Pare di sini, tapi berhubung tulisan ini sepertinya sudah
sepanjang jalan kenangan, lebih baik saya akhiri saja sebelum berubah menjadi
skripsi. Intinya kalian nggak akan nyesal kalau kalian belajar dan pergi ke
Pare karena beda rasanya belajar di sana dengan belajar di lembaga kursus
bahasa inggris pada umumnya. You can ask
me anything about Pare, selama saya tahu pasti akan saya jawab!
Sekian. ^.^
![]() | ||
| Pesan kakak waktu itu: you nggak mau speaking english yang rugi bukan orang lain, tapi diri sendiri. |
![]() |
| Bromo, 9 Februari 2018 (05.41) |
![]() |
| kelas Mr. Gondrong, yang rambutnya nggak gondrong |
![]() |
| Toko buku di Jalan Brawijaya |
![]() |
| sempol dan pentolan favorit q |






2 komentar
NICE!
BalasHapusTHANKS! :D
Hapus